Seorang lelaki bergegas masuk ke dalam bilik ATM sebuah bank. Ia kemudian mengeluarkan dompet dan mencabut kartu ATM-nya. Tak lama berselang transaksi pun berlangsung. Ia menarik uang sejumlah dua ratus ribu rupiah. Sesaat kemudian terlihat lelaki itu menghirup nafas dalam-dalam ketika melihat struk yang tercetak keluar dari mesin anjungan. Lama ia mengamati sisa saldo tabungannya yang tertera pada struk itu. Akhirnya ia menyudahi seluruh transaksinya dengan mesin tersebut dan menyimpan kembali kartu ATM-nya di dalam dompet..
“Hei, Bung! Bung! Tak bisakah kau menahan diri dahulu?” Sebuah teriakan menegur lelaki itu. Namun lelaki itu tak mendengarnya.
“Setiap bulan kau selalu seperti ini. Begitu sering kau datang ke ATM. Uangmu selalu cepat habis,” lanjut suara kecil itu kepada lelaki tersebut. Tapi ia tetap tak mendengar dan melangkah keluar dari bilik anjungan.
“Hei, hei! Kamu ini kenapa sih? Biarkan saja ia mengambil uangnya. Itu kan memang uang dia. Hasil kerja dia.” Sebuah suara lain terdengar gusar menanggapi suara sebelumnya.
“Ah, Kau tak perlu turut campur! Semua ini terjadi gara-gara Kau!” sengit suara yang pertama.
“Lho, lho, lho… Kenapa pula Kau salahkan aku?” tanya suara kedua heran.
“Iya. Gara-gara kartu kredit macam dirimu, lelaki itu banyak kehilangan uang.”
“Lho, bukankah uang adalah alat pemuas kebutuhan hidup? Hidup itu harus dinikmati. Lelaki itu juga berhak menikmati hidup. Biarkanlah ia menggunakan uangnya untuk memuaskan kehidupannya. Apanya yang salah?”
“Iya. Tapi semenjak ada kau, semuanya jadi serba berlebihan dan boros.”
“Alah… Sudahlah, Kau tak perlu berpikiran macam-macam. Seharusnya Kau senang dapat sering digunakan oleh lelaki itu. Artinya Kau menjadi benda yang berguna bagi lelaki itu. Bukankah kita para kartu sangat menyenangi jika kita dikeluarkan dari dompet pengap ini dan digunakan sebagaimana fungsi kita.
“Kau berbeda dengan aku. Aku justru tak ingin terlalu sering digunakan. Apakah kau tak melihat siapakah gerangan tuan pemilik kita itu? Ia bukanlah seseorang dari kalangan yang berduit. Seharusnya ia jauh lebih berhemat demi masa depannya.”
“Kau sudah sadar bahwa tuan kita itu bukanlah orang yang berduit, semestinya kau bahagia melihat wajahnya riang ketika bisa membeli barang-barang yang ia inginkan. Barang-barang yang lumayan sulit didapatkan oleh kebanyakan orang seperti dia. Terima kasihlah kepadaku, Si Kartu Kredit, yang telah membuatnya bahagia.”
“Puahhh…! Terima kasih kepadamu telah menenggelamkannya dalam hutang! Tunggu sampai kau melihat dia mendapat musibah dan ia tak punya simpanan uang yang cukup untuk mengatasinya. Apa nanti kau bakal melihat wajahnya bahagia?”
“Nah, nah, nah… Sekarang siapa yang jahat? Siapa yang menginginkan tuannya dapat musibah?”
“Kau yang jahat! Perhatikankah tiap bulan uangnya selalu habis karena membayar cicilan-cicilan kredit. Sampai-sampai ia berhutang untuk menutup kebutuhannya yang lain. Ia terbiasa boros menarik uangnya semenjak kehadiranmu di sini.”
“Sudah! Sudah! Kartu ATM, Kartu Kredit, sudah hentikan!” Suara ketiga terdengar membentak mencoba melerai pertengkaran.
“Kita di sini semuanya menginginkan tuan kita bahagia. Namun kita tetap tidak sama, masing-masing kita berbeda. Kau Kartu ATM, menginginkan tuan kita itu menghemat uangnya agar ia dapat berbahagia di masa depan. Kartu Kredit, kau menginginkan tuan kita berbahagia dengan kebebasan berbelanja. Sementara aku, aku tidak ingin digunakan barang satu kali pun oleh tuan kita, sebab jika aku ia gunakan maka ia pasti sedang jatuh sakit. Aku tak mau ia sakit,” lanjut suara ketiga mencoba menenangkan.
“Buat apa kita bertengkar? Pertengkaran hanya menambah suasana tak menyenangkan dalam dompet ini. Kita cuma kartu. Tak ada yang dapat kita lakukan selain menjalani fungsi kita masing-masing.” Kartu Ketiga lantas diam sejenak. Kartu ATM dan Kartu Kredit juga bungkam setelah mendengar ceramah Kartu Ketiga.
“Nasib kita lebih baik ketimbang teman kita yang sedang tidur di sisi sebelah sana.” Kartu Ketiga kembali melanjutkan kata-katanya sambil menunjuk ke arah sebuah kartu lain yang sedang meringkuk tidur pulas. “Setidaknya kita masih sering dianggap berharga ketimbang dia,” kata Kartu Ketiga lagi. Kartu ATM dan Kartu Kredit serentak memalingkan pandangan mereka ke arah kartu yang sedang meringkuk tidur itu.
“Sudah lama sekali ia tak pernah lagi digunakan oleh tuan kita. Padahal geliat jiwa kartu itu akan senantiasa hidup jika ia sering-sering digunakan oleh tuannya. Dahulu sesekali ia masih digunakan, namun sekarang mungkin tuan kita tak punya waktu lagi untuk membaca. Kini teman kita frustasi dan sekarang cuma bisa tidur menghabiskan sisa waktunya. Tolonglah kalian jangan ribut lagi. Suara kalian bisa menggangu tidurnya. Kasihan dia.”
Kartu ATM dan Kartu Kredit menatap iba ke arah sang kartu yang tertidur. Tanpa sadar mereka membathin hampir berbarengan, “Kasihan Kartu Perpustakaan...”
Kartu perpustakaan akan terus tidur pulas meringkuk di salah satu sisi dompet. Ia kecewa, frustasi. Tak mau lagi membuka mata. Lelah menanti. Ia yakin ia mungkin tak kan lagi digunakan oleh tuannya. Apalagi kalau Sang Tuan sadar bahwa masa berlaku Kartu Perpustakaan itu telah habis. Nyawanya tidak akan diperpanjang dan segera berakhir di dalam kotak sampah.
“Hei, Bung! Bung! Tak bisakah kau menahan diri dahulu?” Sebuah teriakan menegur lelaki itu. Namun lelaki itu tak mendengarnya.
“Setiap bulan kau selalu seperti ini. Begitu sering kau datang ke ATM. Uangmu selalu cepat habis,” lanjut suara kecil itu kepada lelaki tersebut. Tapi ia tetap tak mendengar dan melangkah keluar dari bilik anjungan.
“Hei, hei! Kamu ini kenapa sih? Biarkan saja ia mengambil uangnya. Itu kan memang uang dia. Hasil kerja dia.” Sebuah suara lain terdengar gusar menanggapi suara sebelumnya.
“Ah, Kau tak perlu turut campur! Semua ini terjadi gara-gara Kau!” sengit suara yang pertama.
“Lho, lho, lho… Kenapa pula Kau salahkan aku?” tanya suara kedua heran.
“Iya. Gara-gara kartu kredit macam dirimu, lelaki itu banyak kehilangan uang.”
“Lho, bukankah uang adalah alat pemuas kebutuhan hidup? Hidup itu harus dinikmati. Lelaki itu juga berhak menikmati hidup. Biarkanlah ia menggunakan uangnya untuk memuaskan kehidupannya. Apanya yang salah?”
“Iya. Tapi semenjak ada kau, semuanya jadi serba berlebihan dan boros.”
“Alah… Sudahlah, Kau tak perlu berpikiran macam-macam. Seharusnya Kau senang dapat sering digunakan oleh lelaki itu. Artinya Kau menjadi benda yang berguna bagi lelaki itu. Bukankah kita para kartu sangat menyenangi jika kita dikeluarkan dari dompet pengap ini dan digunakan sebagaimana fungsi kita.
“Kau berbeda dengan aku. Aku justru tak ingin terlalu sering digunakan. Apakah kau tak melihat siapakah gerangan tuan pemilik kita itu? Ia bukanlah seseorang dari kalangan yang berduit. Seharusnya ia jauh lebih berhemat demi masa depannya.”
“Kau sudah sadar bahwa tuan kita itu bukanlah orang yang berduit, semestinya kau bahagia melihat wajahnya riang ketika bisa membeli barang-barang yang ia inginkan. Barang-barang yang lumayan sulit didapatkan oleh kebanyakan orang seperti dia. Terima kasihlah kepadaku, Si Kartu Kredit, yang telah membuatnya bahagia.”
“Puahhh…! Terima kasih kepadamu telah menenggelamkannya dalam hutang! Tunggu sampai kau melihat dia mendapat musibah dan ia tak punya simpanan uang yang cukup untuk mengatasinya. Apa nanti kau bakal melihat wajahnya bahagia?”
“Nah, nah, nah… Sekarang siapa yang jahat? Siapa yang menginginkan tuannya dapat musibah?”
“Kau yang jahat! Perhatikankah tiap bulan uangnya selalu habis karena membayar cicilan-cicilan kredit. Sampai-sampai ia berhutang untuk menutup kebutuhannya yang lain. Ia terbiasa boros menarik uangnya semenjak kehadiranmu di sini.”
“Sudah! Sudah! Kartu ATM, Kartu Kredit, sudah hentikan!” Suara ketiga terdengar membentak mencoba melerai pertengkaran.
“Kita di sini semuanya menginginkan tuan kita bahagia. Namun kita tetap tidak sama, masing-masing kita berbeda. Kau Kartu ATM, menginginkan tuan kita itu menghemat uangnya agar ia dapat berbahagia di masa depan. Kartu Kredit, kau menginginkan tuan kita berbahagia dengan kebebasan berbelanja. Sementara aku, aku tidak ingin digunakan barang satu kali pun oleh tuan kita, sebab jika aku ia gunakan maka ia pasti sedang jatuh sakit. Aku tak mau ia sakit,” lanjut suara ketiga mencoba menenangkan.
“Buat apa kita bertengkar? Pertengkaran hanya menambah suasana tak menyenangkan dalam dompet ini. Kita cuma kartu. Tak ada yang dapat kita lakukan selain menjalani fungsi kita masing-masing.” Kartu Ketiga lantas diam sejenak. Kartu ATM dan Kartu Kredit juga bungkam setelah mendengar ceramah Kartu Ketiga.
“Nasib kita lebih baik ketimbang teman kita yang sedang tidur di sisi sebelah sana.” Kartu Ketiga kembali melanjutkan kata-katanya sambil menunjuk ke arah sebuah kartu lain yang sedang meringkuk tidur pulas. “Setidaknya kita masih sering dianggap berharga ketimbang dia,” kata Kartu Ketiga lagi. Kartu ATM dan Kartu Kredit serentak memalingkan pandangan mereka ke arah kartu yang sedang meringkuk tidur itu.
“Sudah lama sekali ia tak pernah lagi digunakan oleh tuan kita. Padahal geliat jiwa kartu itu akan senantiasa hidup jika ia sering-sering digunakan oleh tuannya. Dahulu sesekali ia masih digunakan, namun sekarang mungkin tuan kita tak punya waktu lagi untuk membaca. Kini teman kita frustasi dan sekarang cuma bisa tidur menghabiskan sisa waktunya. Tolonglah kalian jangan ribut lagi. Suara kalian bisa menggangu tidurnya. Kasihan dia.”
Kartu ATM dan Kartu Kredit menatap iba ke arah sang kartu yang tertidur. Tanpa sadar mereka membathin hampir berbarengan, “Kasihan Kartu Perpustakaan...”
Kartu perpustakaan akan terus tidur pulas meringkuk di salah satu sisi dompet. Ia kecewa, frustasi. Tak mau lagi membuka mata. Lelah menanti. Ia yakin ia mungkin tak kan lagi digunakan oleh tuannya. Apalagi kalau Sang Tuan sadar bahwa masa berlaku Kartu Perpustakaan itu telah habis. Nyawanya tidak akan diperpanjang dan segera berakhir di dalam kotak sampah.
Komentar
Posting Komentar